Ewy!

Recent Comments Widget

My Blog List

  • Making Progress - Girls blowin’ my phone, playing dramatic shit, wonder if i can get impressed with em. Lately I’ve been getting bored with this so I go back to rappin’ and ...
    2 days ago
  • Bulan Merah - Draft!
    2 days ago
  • Linux - Tahukah kita bahwa Linux adalah sebuah sistem operasi dengan banyak varian dan open source? Yang artinya bahwa Linux sangat memberikan banyak pilihan tent...
    4 weeks ago

Hits

Google+

Translate

Friends

Right here



Recent Comments

Friday

Semoga umat Islam cepat sadar dari keadaan dan penyakit yang berbahaya dan mengerikan ini untuk kemudian meraih kehidupan yang diridhoi Allah SWT.Segala penyakit mempunyai penawarnya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan ketika kita ingin menghindari atau ingin menyembuhkan kebodohan dalam diri yakni dengan :
 
Menuntut Ilmu dan Banyak Bertanya

Jalan terbaik untuk menghilangkan keadaan bodoh adalah mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat. Karena kebodohan adalah penyakit hati yang tidak ada obatnya kecuali dengan ilmu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Tidak lain obatnya kebodohan selain bertanya“ (HR Ibnu Majjah dan Ahmad). Ada banyak sekali ilmu yang berkembang saat ini, pelajarilah sebanyak mungkin ilmu-ilmu yang membawa kemaslahatan bagi manusia dan diridhai Allah SWT. Carilah guru atau orang-orang pandai yang bisa menjadi tempat kita bertanya. Janganlah berhenti setiap kali menemukan kesulitan. Ketekunan mempelajari banyak ilmu akan membawa kita pada kedewasaan berpikir dan bertindak, sehingga kita bisa menjadi umat yang bisa membangun masyarakat yang maju dan adil.

Menjadikan Al quran sebagai Obat

Oleh karena itu Allah SWT menurunkan Quran sebagai obat bagi segala penyakit hati, sebagaimana firman Allah SWT :“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-panyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS Yunus 10:57) Al Quran tak lain adalah dokter yang kita butuhkan yaitu dokter hati. Perlunya hati terhadap ilmu seperti perlunya nafas terhadap udara bahkan lebih besar. Ilmu bagi hati laksana air bagi ikan, apabila hilang air, maka matilah ikan. Jadi kedudukan ilmu bagi hati tak ubahnya cahaya bagi mata, mendengarnya telinga terhadap ucapan lisan. Apabila semua ini hilang maka hati itu laksana mata yang buta, telingan yang tuli dan lisan yang bisu.
Categories:
Comments
0 Comments